Senin, 09 April 2012

PENGEMBANGAN KECERDASAN JAMAK PADA ANAK USIA DINI MELALUI BERMAIN PERAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Peningkatan kecerdasan  pada Anak Usia Dini adalah hal yang penting dilakukan . Disebut Anak Usia Dini yaitu anak yang berumur  0- 6 tahun. Usia tersebut  merupakan usia keemasan (Golden Age ) dimana dalam masa tersebut proses anak akan mengalami perkembangan pada dirinya baik itu fisik, intelektual, sosial emosional maupun bahasa.
Pemahaman tentang penting nya masa usia Dini, berdampak pada kebijakan pemerintah saat ini. Salah satu kebijakan tersebut dengan UU RI Nomor 20 tahun 2003  tentang  sistem Pendidikan Nasional yang isinya sebagai berikut : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritiual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Secara khusus PAUD bertujuan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan yang lebih lanjut. 
Berkaitan dengan optimalisasi perkembangan pada Anak Usia Dini (AUD) diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat menstimulus kecerdasannya. Seperti yang kita ketahui kecerdasan masing –masing anak  memiliki kecerdasan berbeda-beda tetapi perlu kita sadari bahwa  setiap anak nantinya  mempunyai kecenderungan untuk memiliki salah satu kecerdasan yang menonjol dibandingkan dengan kecerdasan lainnya. Menurut Howard Gardner,  kecerdasan  tidak hanya tunggal, tetapi masing-masing individu  memiliki kecerdasan berbeda-beda, yang disebut sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Kecerdasan majemuk bisa dirinci menjadi delapan kecerdasan, yaitu:
a.       Kecerdasan Linguistik, berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat.
b.      Kecerdasan Matematis-Logis, berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.
c.       Kecerdasan Visual-Spasial, berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain.
d.      Kecerdasan Musikal, berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.
e.       Kecerdasan kinestetik, berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.
f.       Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan soasial, kerja sama dan empati.
g.       Kecerdasan Intrapersonal, berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, motivasi diri, tujuan hidup dan pengembangan diri.
h.      Kecerdasan Naturalis, berkaitan dengan kemampuan meneliti perkembangan alam, melakukan identifikasi dan observasi terhadap lingkungan sekitar.
Berdasarkan dari uraian diatas dapat kita ketahui betapa pentingnya mengembangkan kecerdasan jamak yang di mulai dari Anak Usia Dini. Sehingga nantinya kelak menjadi modal dasar kesuksesan yang menjadi bekal hidup pada usia dewasa nanti. Dengan demikian betapa pentingnya pengembangan kecerdasan dalam pembelajaran pendidikan Anak Usia Dini. Kita harus selalu menstimulus dengan  kegiatan- kegiatan atau pembelajaran yang mendukung  karakteristik dan porsi Anak Usia Dini.

B.     Masalah
Berdasakan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka akan disampaikan pada karya ilmiah ini tentang bagaimana cara pengembangan kecerdasan jamak pada Anak Usia Dini (AUD).
C.     Tujuan
Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan anak . Maka dari itu  tujuan dari pengembangan kecerdasan jamak pada Anak Usia Dini untuk mengembangkan dan  meningkatkan  kecerdasan dasar yang dimiliki setiap anak. Melatih anak meningkatkan kecerdasan jamak dan menstimulasi nya. Jika anak sering dilatih dan difasilitasi untuk mengembangkan kecerdasan nya maka akan terlihat kecenderungan yang menonjol dari salah satu kecerdasan jamak tersebut dalam diri anak..
D.     Manfaat
Mengembangkan kecerdasan jamak pada anak  usia dini maka akan meningkatkan kecerdasan pada diri anak tersebut, seperti yang kita ketahui anak tidak luput dengan kegiatan bermain. Sehingga dalam bermain anak harus ada unsur pendidikan untuk menstimulasi kecerdasannya. Tetapi tetap diolah dan ditampilkan semenarik mungkin. Jadi anak nyaman bermain sekaligus belajar. Jika sering menstimulus nantinya kita akan tahu bakat anak dilihat dari  kecenderungan yang menonjol salah satu dari  kecerdasan jamak tersebut, yang akan menjadikan bekal  dasar  demi meraih kesuksesan hidup pada diri anak setelah tumbuh menjadi  orang dewasa.  Membangun kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah  rumah yang mempunyai  beberapa pilar  tembok atau kayu sebagai penyangganya.  Jika membangun pilar tembok semakin kokoh rumah tersebut berdiri. 

 BAB II
LANDASAN TEORI
A.     Pengertian Kecerdasan Jamak
Kecerdasan majemuk atau jamak  (Multiple Intelligences) yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangann dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini (AUD), mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7-8 tahun).
 Konsep Multiple Intelegensi (MI), menurut Gardner (1983) dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple intelegences, ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu yaitu : Linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses informasi yang akan masuk ke dalam dirinya.
Karena itu Amstrong (2002) menyebutkan, kecerdasan tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap anak  dan menjadikan mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas. Sebelum menerapkan kecerdasan jamak (MI) sebagai suatu strategi dalam pengembangan potensi seseorang, perlu kita kenali atau pahami ciri-ciri yang dimiliki :
1.      Kecerdasan Linguistik, umumnya memiliki ciri antara lain : (a) suka menulis kreatif, (b) suka mengarang kisah khayal atau menceritakan lelucon, (c) sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil, (d) membaca di waktu senggang, (e) mengeja kata dengan tepat dan mudah, (f) suka mengisi teka-teki silang, (f) menikmati dengan cara mendengarkan, (g) unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
2.      Kecerdasan Matematika-Logis, cirinya antara lain: (a) menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala, (b) suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?, (c) ahli dalam permainan catur, halma dsb, (d) mampu menjelaskan masalah secara logis, (d) suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu, (e) menghabiskan waktu dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam Matematika dan IPA.
3.      Kecerdasan Spasial mempunyai ciri – ciri  antara lain: (a) memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu, (b) mudah membaca peta atau diagram, (c) menggambar sosok orang atau benda persis aslinya, (d) senang melihat film, slide, foto, atau karya seni lainnya, (e) sangat menikmati kegiatan visual, seperti teka-teki atau sejenisnya, (f) suka melamun dan berfantasi, (g) mencoret-coret di atas kertas atau buku tugas sekolah, (h) lebih memahamai informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian, (i) menonjol dalam mata pelajaran seni.
4.      Kecerdasan Kinestetik-Jasmani, memiliki ciri: (a) banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu, (b) aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, (d) menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau kegiatan fisik lainnya, (e) memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti mengukir, menjahit, memahat, (f) pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang lain, (g) bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya, (h) suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi, (i) berprestasi dalam mata pelajaran olahraga dan yang bersifat kompetitif.
5.      Kecerdasan Musikal memiliki ciri antara lain: (a) suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah, (b) mudah mengingat melodi suatu lagu, (c) lebih bisa belajar dengan iringan musik, (d) bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang lain, (e) mudah mengikuti irama musik, (f) mempunyai suara bagus untuk bernyanyi, (g) berprestasi bagus dalam mata pelajaran musik.
6.      Kecerdasan Interpersonal memiliki ciri antara lain: (a) mempunyai banyak teman, (b) suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, (c) banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, (d) berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya, (e) berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, (f) sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain, (g) berbakat menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu sosial.
7.      Kecerdasan Intrapersonal memiliki ciri antara lain: (a) memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, (c) memiliki rasa percaya diri yang tinggi, (d) banyak belajar dari kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.
8.      Kecerdasan Naturalis, memiliki ciri antara lain: (a) suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan, (b) sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, (c) suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang, (d) menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam, (e) suka membawa pulang serangga, daun bunga atau benda alam lainnya, (f) berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.
Dari delapan uraian diatas, penulis menyadari betapa pentingnya pengembangan kecerdasan jamak sejak Anak Usia Dini (AUD). Tetapi melalui metode menyenangkan namun tetap ada unsur untuk mengembangkan kecerdasan jamak di dalamnya. Agar mencakupi kecerdasan jamak, penulis menggunakan pembelajaran dengan  bermain peran. Melalui pengalaman main peran, anak diberi kesempatan untuk menciptakan kembali kejadian kehidupan nyata dan memerankannya secara simbolik.  Bermain identik dengan dunia anak, dengan bermain anak beraktivitas dan bersosialisasi dengan lingkungan.  Bermain merupakan kebutuhan dasar bagi proses tumbuh kembang anak.  Bermain dapat menumbuhkan imajinasi dan kreativitas anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.  Melalui bermain anak mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan.  Banyak cara untuk melakukan kegiatan permainan tersebut.  Ada yang menggunakan media atau alat, ada juga yang tidak. Salah satu jenis main yang perlu diperkenalkan pada anak adalah main peran.

B.     Pengertian Bermain Peran
Menurut Sarra Smilanky, Main peran adalah kegiatan anak menghadirkan pengalaman yang pernah didapatkannya dengan menunjukkan kembali melalui bermain pura-pura. Bermain peran akan membuat anak berkemampuan sosial. Sambil bermain peran  ikut belajar berbagi, belajar mengantri atau bergiliran, dan berkomunikasi dengan teman-temannya .Kemampuan mengelola emosi, termasuk untuk memahami perasaan takut, kecewa, sedih, marah dan cemburu. Anak akan belajar mengelola dan memahami perasaan – perasaan tersebut. mengasah kreativitas dan  disiplin, biasanya anak akan mengambil peraturan dan pola hidupnya sehari- hari dan kebiasaan si anak atau orang tua bahkan orang dewasa di lingkungan terdekat anak. Serta mengasah kecerdasan linguistik yaitu kemampuan berbahasa hal itu terlatih secara tidak langsung akan bertemu dengan lawan mainnya pada saat bermain peran. 





                                                               BAB III
METODE DAN PROSEDUR KERJA


A.     Strategi Pemecahan Masalah
1.      Alasan pemilihan strategi pemecahan masalah
Strategi yang akan digunakan dalam pengembangan kecerdasan jamak pada Anak Usia Dini melalui kegiatan bermain peran. Kegiatan bermain identik dengan anak- anak. Karena bermain adalah kegiatan yang menyenangkan sehingga anak tertarik untuk terlibat. Tapi kegiatan bermain yang didalam nya mengandung unsur pendidikan. Penulis memilih kegiatan bermain peran.  Main peran memberikan kesempatan pada anak untuk memainkan peran-peran yang beragam dengan tujuan agar mereka mengerti, menghormati dan memiliki empati akan peran-peran yang ada disekitar mereka serta sikap-sikap positif lainnya pada diri anak, yang merupakan bekal mereka dalam interaksi sosial di masyarakat pada kehidupannya.

2.      Deskripsi strategi pemecahan masalah yang dipilih, meliputi:
a.       Strategi pembelajaran melalui bermain peran, dengan bermain peran anak berlatih dan memainkannya lengkap dengan skenario yang disusun seketika dan dimainkannya bersama sama dalam satu session. Dalam bermain peran ada dua jenis main peran, yaitu main peran mikro dan makro. Peran mikro adalah kegiatan bermain peran dengan menggunakan bahan –bahan berukuran  kecil. Peran makro adalah kegiatan bermain peran sesungguhnya dengan alat – alat permainan berukuran sesungguhnya dan anak dapat menggunakannya untuk menciptakan dan memainkan peran-peran. 
b.      Sebelum bermain peran guru memberikan pijakan –pijakan sebelum bermain, yaitu:
Ø  Guru membacakan buku yang terkait dengan tema
Ø  Mengenalkan kosakata baru dan peran peran
Ø  Menjelaskan urutan kegiatan main peran menjelaskan cara menggunakan alat.
Ø  Menetapkan peran yang akan dimainkan
Ø  Mengajak pemain lainnya.
Ø  Memperkuat dan memperluas bahasa anak.
Ø  Memberikan contoh komunikasi yang tepat.

B.     Alat Pengambilan Data
Dalam pengambilan data akan melakukan:
1.      Observasi terhadap perilaku anak ketika sedang bermain peran dan penulis akan menyiapkan daftar observasi yaitu dengan chek  list yang mana berdasarkan dari kegiatan anak yang bermain peran.
2.      Tanya jawab , tetapi dalam tanya jawab ini berbentuk tidak resmi. Karena disesuiakan dengan karakteristik anak dan diajukan dengan senyaman mungkin bagi anak. Sehingga anak akan tetap menikmati kegiatan bermainnya. Serta pertanyaan yang sesuai diperankan.
3.      Dokumen, penulis akan mengambil gambar anak –anak yang sedang beramin peran sebagai bukti otentik apakah anak- anak nyaman atau tidak dalam bermain perannya.

C.     Pengolahan dan Penganalisisan Data
Setelah dilakukan pengambilan data dengan observasi terhadap peilaku anak ketika sedang bermain peran yang meliputi : main sendiri, main berdampingan, main bersama dan main kerja sama. Dari hasil tanya jawab yang diajukan penulis bisa menarik kesimpulan dari kegiatan bermain peran anak. Serta bisa diambil catatan kejadian ketika anak bermain peran. Selain  itu juga akan diketahui hasil pengamatan terhadap interaksi sosial yang muncul, yaitu perilaku peduli atau tidak peduli dengan lawan mainnya. Dokumen menjadi pendukung tambahan dari kegiatan tersebut.




 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Keunikan ide atau gagasan
Keunikan ide dalam kegiatan bermain peran ini, penulis menyajikan muatan lokal kota Pekalongan yaitu batik. Anak –anak akan melakukan kegiatan bermain peran mengunjungi Museum batik. Jadi, anak bisa melakukan kegiatan bermain sekaligus mengenal dan memahami tentang batik sebagai ciri khas budaya dari daerah Pekalongan sebagaimana  sudah dijadikan muatan lokal yang digunakan untuk pembelajaran di sekolah- sekolah. Tetapi penulis menyusun dan mengolah kegiatan, peran sesuai dengan porsi, karakteristik  Anak Usia Dini. Berikut ini Prosedur kegiatan bermain peran:
a.       Tahap perencanaan.
Ø Menentukan tema dan sub tema. 
Ø Tema: Rekreasi, dengan sub tema : Berkunjung ke Museum Batik Pekalongan.
Ø Menentukan jenis permainan peran yang akan digunakan (main peran mikro atau peran makro).
Ø Main peran makro: -     Anak bermain peran petugas penjaga loket.
-     Alat yang digunakan: tiket masuk, cap stempel.
-     Anak berperan sebagai penjaga stand yang bertugas memberi informasi dan penjelasan tentang masing- masing stand.
-     Sebagai penjaga galeri dan kasir.
-     Sebagai penjual dan pembeli di cafetaria dan galeri.
Ø Menentukan durasi waktu yang akan digunakan :
 peneliti menyarankan 1 jam.
Ø Menyiapkan ruangan sehingga perabotan dan peralatan tidak terlalu sesak, alat-alat mudah dijangkau.  Peran makro: ruangan kelas dibagi menjadi empat stand, yaitu :
Stand batik tulis,  stand batik cap, stand galeri batik, cafetaria.
Ø  Menyiapkan alat- alat untuk mendukung adegan permainan.
Stand batik tulis: alat – alat pendukung peran mikro dan makro, yaitu canting tulis, kompor kecil, wajan kecil, bahan pendukung: lilin malam, kain mori, kain batik tulis.
Stand batik cap: alat – alat pendukung peran mikro dan makro yaitu canting cap, kompor kecil, meja, bahan pendukung: kain mori putih, kain batik cap.
Galeri batik dengan menggunakan alat dan bahan mikro dan makro: baju- baju batik, kain- kain batik, handycraft batik, tas  plastik.
Main peran mikro: uang mainan.

B.     Keinovasian Ide atau gagasan
Penulis menghadirkan keinovasian dalam kegiatan bermain peran ini, yaitu:
Menyiapkan ruangan dengan menyetting seperti di museum batik dengan di dukung peralatan nya. Pada loket masuk didukung dengan cap stempel, tiket masuk.
Pada stand batik tulis,  di dukung dengan menghadirkan canting tulis, kompor kecil,  wajan keci, kain mori, kain batik. Tetapi penulis memberikan inovasi pada stand tersebut, yaitu dengan menggunakan botol kecap kecil terbuat dari plastik, hal itu memudahkan anak berperan sedang membatik, lilin malam di ganti dengan lem tembok atau tepung ditambah pewarna. Penulis akan meyediakan 3 warna pokok, merah, biru, kuning. Hal itu melatih anak mengenal warna, membuat kreasi warna ketika warna-warna tersebut dicampurkan. Kain mori di ganti dengan kertas manila putih karena untuk memudahkan anak belajar membatik tulis.
Pada stand batik cap  beri inovasi yaitu dengan menggunakan canting cap kayu yang dibuat ukuran kecil sesuai jangkauan anak- anak. Pewarna yang aman bagi anak- anak, kapas. Kain mori putih yang berukuran sesuai anak- anak. Pada galeri batik penulis akan menyiapkan berbagai macam handycraft dan pakaian- pakaian batik. Sehingga anak mengenal dan memahami hasil batik bisa dibuat untuk berbagai macam benda. Juga kreasi hasil batik.
Dalam masing- masing peran dapat melatih anak untuk mengembangkan kecerdasan jamak, sehingga hasil yang akan dicapai yaitu:  
Ø  Kecerdasan seni: menciptakan kreativitas yang dapat diperoleh dari membatik tulis. Melatih kreativitas mencampur 3 warna pokok menjadi warna-warna lain. Hal itu juga melatih imajinasi anak untuk menciptakan warna baru.   
Ø  Bermain peran membuat anak mengembangkn kecerdasan, dengan  menemukan beragam kosakata yang akan memperkaya perbendaharaan kata mereka. Belajar bercakap- cakap menggunakan kalimat yang sopan dan tepat, karena  berkomunikasi dengan lawan mainnya, teman temanya.
Ø  Bersosialisasi yang baik sehingga melatih anak mempunyai teman bermain yang akrab. Hal itu bisa dilakukan anak berperan sebagai penjaga di masing- masing stand museum batik
Ø  Melatih anak membuat bentuk- gambar alam sehingga mengembangkan kecerdasan naturalis. Kecerdasan matematis yaitu berperan sebagai penjual dan pembeli di stand galeri dan cafetaria.   

C.     Kendala – kendala yang dihadapi dalam menerapkan ide atau gagasan.
Ketersediaan alat – alat dan bahan pendukung yang menunjang dalam bermain peran. Memilih bahan – bahan yang aman dan sesuai dengan karakteristik anak.

D.     Faktor- faktor pendukung
Adanya motivasi sebagai seorang pendidik PAUD untuk mengembangkan kecerdasan jamak pada diri anak dan berusaha untuk diaplikasikan dalam bentuk bermain peran dan proses  pembelajaran lain.
Berawal dari ciri khas budaya daerah sendiri yang di terapkan sebagai muatan lokal pembelajaran anak. Sehingga sejak Anak Usia Dini dikenalkan dengan MULOK agar mengenal budaya daerah sendiri yang sudah berkembang dan diakui di dunia.
Suatu kesadaran untuk mencerdaskan anak bangsa yang tidak  hanya menilai anak berbakat atau berprestasi yang hanya ditunjukkan dengan sisi intelektual atau IQ saja. Ternyata kecerdasan yang dimiliki anak atau indivividu mempunyai kecerdasan jamak. Nantinya akan muncul kecenderungan yang menonjol dalam diri anak yang dapat dijadikan modal atau bekal hidup.
      
E.     Tindak Lanjut
Untuk mengatasi berbagai kendala yang muncul, ada beberapa solusi alternatif diantaranya:
Keterbatasan alat dapat diantisipasi dengan menggunakan barang barang bekas, seperti kardus, kain mori , pewarna makanan, atau meminjam barang dari yang dimiliki pendidik
Mengadakan pendekatan kepada orang tua dengan dialog yang membahas kecerdasan jamak pada diri anak. Bahwa setiap anak punya kecerdasan, sehingga orang tua tidak menilai atau berpikir yang sempit dengan melihat kecerdasan matematis IQ sebagai tolak ukur.





BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.     Simpulan
Kecerdasan majemuk atau jamak  (Multiple Intelligences) yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangann dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ). Anak Usia Dini (AUD ) merupakan salah satu aset untuk pondasi dan mengembangkan kecerdasan jamak. Sehingga menjadi modal atau bekal hidup setelah dewasa nanti.
      Masalah yang dirumuskan adalah bagaimana metode yang digunakan dalam mengembangkan kecerdasan jamak pada Anak usia Dini.  Adapun metode ini yang digunakan adalah bermain peran.  

B.     Rekomendasi
Berdasarkan hasil karya ilmiah yang telah disajikan, penulis menyampaikan rekomendasi kepada:
1.      Orang tua
Orang tua ikut andil dalam mengembangkan kecerdasan jamak dalm lingkungan keluarga. Kesibukan orang tua dalam bekerja, sehingga orang tua tidak memahami potensi pada diri anak. Ketidak pahaman apa maksud atau pengertian  kecerdasan jamak pada anak. Sehingga orang tua bertolak ukur bahwa prestasi anak dilihat dari IQ saja. Untuk itu luangkan waktu nya sehingga dapat terjalin komunikasi dan kasih sayang akhirnya dapat mengetahui potensi diri anak atau bakat anak. Sehingga orang tua bisa memfasilitasi dan melatih kecerdasn yang sesuai potensi anak. Bisa mengarahkan pendidikan yang tepat sesuai bakat anak.        
2.      Pengambil Keputusan (DIKNAS)
Mengembangkan kecerdasan jamak sangat berarti dalam merealisasikan tujuan pendidikan yaitu sebagaimana tercantum juga dalam Tujuan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah membentuk anak Indonesia yang berkualitas, diaman anak tumbuh kembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal dalam kehidupan dewasanya. Undang Undang SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, Bab II pasal 3 bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensipeserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan berakhlak mulia. Untuk itu pemerintah berusaha memfasilitasi dalam mengembangkan kecerdasan jamak sehingga menjadi anak Indonesia yang berkualitas sesuai potensinya.
3.      Penulis Selanjutnya
Penulis menyadari dalam pembuatan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan untuk itu bagi penulis selanjutnya semoga dapat dijadikan pijakan untuk mengembangkan karya selanjutnya.     







                                                                      daftar pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah, Direktorat PAUD. 2004. Bahan Pelatihan Jilid 3 main Peran. Jakarta : Proyek Pengembangan Anak Usia Dini Pusat.
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah, Direktorat PAUD. 2006. Pedoman Penerapan Pendekatan BCCT dalam PAUD. Yogyakarta : CV Pradana Utama.
http : // www.anakanak.org
Hurlock, EB. 2005. Perkembangan Anak, Jakarta : Erlangga
Megawangi, R. 2007. Makalah Seminar Pendidikan Holistik Berbasis Karakter di Covention Hall PLN JBN Semarang 17 Nopember 2007.
Undang-undang Sistem pendidikan Nasional Tahun 2003



3 komentar:

  1. selamat ya mpok amsani juara 2
    oyee

    BalasHapus
  2. wah boleh juga nih. saya ijin copy buat dibaca nanti di rumah.

    BalasHapus
  3. bagus mba tulisannya...ijin copas ya...


    BalasHapus